Jelang Karya Agung Danu Kertih, Ratusan Asn Ngayah Mereresik Di Pura Jati

  • 31 Oktober 2018
  • Budaya
JELANG KARYA AGUNG DANU KERTIH, RATUSAN ASN NGAYAH MERERESIK DI PURA JATI

Menjelang pelaksanaan Karya Agung Danu Kertih, Tawur Agung Labuh Gentuh, Meras Danu lan Gunung di Pura Jati, Desa Pakraman Batur, Kecamatan Kintamani Bangli, yang puncaknya akan dilaksanakan pada Buda Umanis Kulantir (Tilem Kelima), Rabu 7 Nopember 2018 mendatang, ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dilingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangli, Rabu (31/10) ngaturang ayah mereresik (bersih-bersih) dipura setempat.
Kabag Protokol Setda Bangli Cok Bagus Gde Gaya Dirga mengatakan, kegiatan ngayah bersama yang dilaksanakan ASN Kabupaten Bangli hari ini, merupakan bentuk bhakti kehadapan Ida Bhatara yang berstana di Pura Jati. Dengan pelaksanaan ngayah ini, ia berharap Ida Bhatara memberikan sinar sucinya, sehingga urusan pemerintahan di Kabupaten Bangli bisa berjalan dengan baik. “Hari ini ASN dilingkungan Pemkab Bangli ngaturan ayah bhakti mereresik di Pura Jati Batur. Ada yang bawa sabit, ada yang bawa sapu, semuanya kompak melaksanakan pembersihan diareal Pura Jati, untuk mensukseskan pelaksanaan Karya Agung Danu Kertih”ucapnya.
Sementara itu Jro Gde Batur Alitan mengatakan, tujuan dilaksanakannya Karya Danu Kertih adalah untuk memohonkan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, dalam manifestasi ida sebagai Dewa Wisnu atau Dewi Danu, agar sumber-sumber air di Bali, khususnya di Danau Batur tidak surut dan tetap terjaga, untuk bisa mencukupi kebutuhan masyarakat Bali, baik untuk mengairi pertanian maupun untuk kebutuhan lainnya. Selain itu jelas Jro Gde Batur, tujuan dilaksanakannya Karya Agung Danu Ketih adalah untuk memohon kesuburan untuk masyarakat Bali. Baik subur sandang, papan maupun pangan. “Selain memohon kesuburan sandang, papan dan pangan, melalui Melalui Karya Agung Danu Kertih, kita juga memohon kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, agar masyarakat Bali diberikan tuntunan, sehingga diharapkan muncul pemikiran-pemikiran yang positif. Tidak iri, tidak dengki dan saling menyayangi antar sesama”ucapnya.
Selain itu, sambung Jro Gde Batur, dalam Lontar Kusuma Desa, Usana Bali dan Babad Batur Kelawasan yang tersimpan di Pura Ulun Danu Batur menyebutkan, Karya Agung Danu Kertih wajib dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Kalau tidak dilaksanakan tepat waktu, disana disebutkan bahwa Bali akan mengalami musibah, baik gempa bumi, serangan hama pada lahan pertanian maupun percecokan dalam rumah tangga maupun pasemetonan. Bahkan kata Jro Gde Batur, tahun 1955, debit air Danau Batur pernah mengalami fenomena penurunan yang signifikan. Bahkan penurunanya mencapai tujuh meter, hal ini dikarenakan Karya Danu Ketih tidak dilaksanakan. “Saya masih ingat betul kejadian tahun 1955. Waktu itu Karya Danu Ketih memang lama tidak dilaksanakan. Akibatnya debit air Danau Batur turun drastis. Bahkan penurunannya mencapai tujuh meter.”kenang Jro Gde Batur.
Terkait dengan pelaksanaan Karya Danu Ketih, ia mengatakan bahwa karya ini bukan saja menjadi tanggung jawab masyarakat Batur, namun karya ini merupakan kewajiban masyarakat Bali, umat hindu sedharma dan subak se-Bali. Untuk itu, Jro Gde Batur menghimbau umat hindu se-Bali, saat puncak Karya Danu Ketih pada Tilem Kelima, dari masing-masing desa pakraman, baik melalui pura Khayangan Desa, maupun pemrajan dimasing-masing rumah, bisa ngaturang Pejati. Menurutnya, tujuan ngaturang Pejati tiada lain untuk mendoakan jagat Bali agar selalu aman dan dijauhkan dari semua bentuk bencana. “Mengingat pentingnya Karya Danu Ketih, saya menghimbau kepada umat hindu se-Bali untuk ikut mensukseskannya dengan ngatuang pejati dimasing-masing merajan”pungkasnya

  • 31 Oktober 2018
  • Budaya

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita