Sekda Giri Putra Pimpin Pelaksanaan Siwaratri Di Pura Kehen.

  • 05 Januari 2019
  • Budaya
SEKDA GIRI PUTRA PIMPIN PELAKSANAAN SIWARATRI DI PURA KEHEN.

BANGLI-Protokol.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bangli I.B. Gde Giri Putra memimpin pelaksaan Siwaratri di Pura Kehen Bangli, Sabtu (5/1). Acara ini juga dihadiri oleh pimpinan Forkompinda Bangli, OPD dilingkungan Pemkab Bangli, pengurus PHDI Bangli dan siswa SD, SMP dan SMA dilingkungan Kota Bangli.
Sekda Giri Putra mengatakan, pada hakekatnya tujuan kita melaksanakan brata siwaratri adalah untuk mengendalikan hawa nafsu dan mengintrospeksi diri akan perbuatan dan tujuan kehidupan kita didunia ini. Oleh karenanya, melalui momentum rahina suci Siwaratri, Sekda Giri Putra mengajak seluruh umat sedharma khususnya masyarakat Bangli, untuk bisa mengendalikan dan mengenali diri, agar tidak terjerumus pada tujuh kegelapan diri.
Lebih lanjut Sekda Giri Putra menjelaskan, malam purwaning tilem kapitu (hari dilaksanakannya rahina Siwaratri), merupakan malam yang paling gelap diantara malam. “Di alam nyata dunia mengalami kegelapan, dalam pikiran manusia juga mengalami tujuh kegelapan (sapta timira) yang membuat kita lupa diri”terangya.
Sapta timira dimaksud, jelas Sekda Giri Putra, seperti Surupa mambuk karena wajah atau rupa yang tampan, Dhana mabuk karena harta benda, Guna mabuk karena kepintaran, Kulina mabuk karena keturunan, Yowana mabuk karena masa muda, Sura mabuk karena minuman keras dan Kasuran mabuk karena memiliki keberanian. “Melalui tapa, brata, yoga lan semadi, mari kita memohon sinar suci kehadapan ida Bhatara Siwa agar menghilangkan tujuh kegelapan dalam diri kita”ujarnya.
Sementara itu, Ketua Harian PHDI Bangli Drs. I Nyoman Sukra pada kesempatan itu menghimbau umat sedharma bisa menjalankan brata Siwaratri, yakni jagra (tidak tidur), monobrata (tidak berbicara) dan upawasa (tidak makan). Ia mengatakan jagra penuh dalam brata Siwaratri adalah tidak tidur selama 36 jam. Namun kalau tidak bisa, jagra 24 juga bisa, kalau masih tidak bisa 12 jam juga tidak masalah, asal dilaksanakan dengan niat dan kesungguhan. Sama halnya dengan monobrata, kalau memang tidak bisa dilaksanakan, tidak masalah, asal tidak membicarakan keburukan orang dan lebih banyak berbicara tentang agama dan kebaikan. Begitu juga dengan upawasa, kalau tidak bisa 36 jam, 24 juga boleh, kalau masih belum bisa 12 jam juga tidak masalah, asal dilaksanakan dengan niat yang tulus dan iklas. “Dalam agama hindu tidak ada kata harus. Harus begini harus begitu, karena agama merupakan keseimbangan. Kalau bisa jalankan upawasa, monobrata dan jagra selama 36 jam penuh sangat baik. Kalau hanya bisa 24 jam atau 12 jam juga tidak masalah, asal dilaksanakan dengan tulus iklas”pungkasnya

  • 05 Januari 2019
  • Budaya

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita