Krama Batur Gelar Bhakti Pepranian Sebelum Ida Bhatara Mesineb.

  • 13 April 2018
  • Budaya
KRAMA BATUR GELAR BHAKTI PEPRANIAN SEBELUM IDA BHATARA MESINEB.

Sebagai rangkaian dari Karya Pujawali Ngusaba kedasa, Icaka 1940 di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani, Bangli, masyarakat Desa Pakraman batur, Jumat (13/4) ngaturang bhakti Pepranian. Acara yang dipusatkan diareal madya mandala Pura Ulun Danu Batur, diikuti oleh ratusan krama (masyarakat) setempat. Bhakti Pepranian ini juga dihadiri oleh Bupati Bangli I Made Gianyar, SH.,M.Hum, Senator DPD RI Shri I G.N. Arya Wedakarna, Kabiro Kesra Setda Provinsi Bali A.A. Geriya, Plt. Walikota Denpasar I GN Jaya Negara, Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dilingkungan Pemkab Bangli.

Manggala karya, Jro Gede Batur Duhuran pada kesempatan itu menjelaskan, tujuan dari pelaksanaan bhakti pepranian adalah sebagai wujud syukur sekaligus permohonan maaf kehadapan Ida Bhatara, bilamana selama Ida Bhatara nyejer, ada kekurangan yang tidak sengaja kita perbuat. “Sebagai manusia, tentu kita tidak bisa lepas dari kesalahan. Apalagi Pujawali Ngusaba Kedasa merupakan karya yang besar. Tentu ada saja kekurangan atau yang terlewatkan. Jadi bhakti pepranian merupakan sarana kita memohon maaf kepada beliau, seraya memohon agar Ida Bhatara memberikan keselamatan dan kesejahteraan untuk alam semesta beserta isinya”jelasnya.
Beliau menambahkan, dalam Bhakti Pepranian, Bhakti yang dihaturkan semua yang terbaik. Seperti ajengan, lauk pauknya, dengan pale bungkah dan pale gantungnya. Semua yang terbaik yang kita miliki yang dihaturkan. Setelah dihaturkan, bhakti ini kita tunas bersamaan dengan keluarga. Maknanya untuk kerumaketan (kebersamaan) antar sesama dan memohon agar Ida bhatara menganugrahkan keselamatan dan kesejahteraan untuk semua.
Sambung Jro Gede Batur Duhuran , setelah bhakti pepranian, dilanjutkan dengan bhakti perang-perangan Tari Baris Jojor dan Tari Baris Gede. Dalam Bhakti ini, Tarian Baris Jojor dan baris Gede, masing-masing dimainkan oleh dua orang. Dimana kedua penari bergerak dari arah yang berlawanan (utara dan selatan), setelah bertemu ditengah-tengah, penari ini akan menemukan merta. Makna dari perang-perangan ini adalah kalau kita mencari mertha, kita harus berperang dulu. “Disini perang yang dimaksud, bukan perang yang sebenarnya. Hanya perang simbolis saja. Bahwa untuk mencari kesuksesan harus berproses dengan kerja keras”katanya. 
Dijelaskan juga, setelah Bhakti Perang-Perangan, dilanjutkan dengan Bhakti Matiti Suara. Matiti suara sebenarnya merupakan bisama atau pituah dari Ida Bhatara. Inti dari pituah ini adalah masyarakat diminta selalu berbuat baik. Pesannya kalau kita berbuat baik, pasti hasil yang akan kita terima juga baik. 
Adapun potongan pituah dalam Bhakti Matiti Suara ini, kata Jro Gede Batur “Krama desa lan umat hindu sami. Pirengin becik becik ngih. Mule kliki mule biyu, mule akidik mupu liyu. Balik sinuriak, ngih”. Jelasnya, siapapun disana yang bilang ngih (ia) kalau dirumah berkata lain. Itu hukumannya dari sana (Ida Bhatara). “Ini kan semua pituah yang termuat ring purana Pura Ulun Danu Batur. Kami masyarakat Batur sangat meyakini ini”katanya lagi. 
Selanjutnya, jelas Jro Gede Batur, setelah Bhakti Metiti Suara, dilanjutkan dengan Nuwek bagia Pule Kerti, Pralina Sampian, Bhakti Petetingkeb, Mendem Bagia Pule Kerti dan Ida Bhatara Ngeluhur (mesineb)
Sementara itu, Bupati Bangli Made Gianyar pada kesempatan itu menyampaikan harapannya, agar dengan pelaksanaan karya ini, Ida Bhatara yang berstana di Pura Ulun Danu Batur memberikan keselamatan dan kemakmuran bagi seluruh umat manusia. Selain itu, ia juga berharap Ida Bhatara selalu memberikan tuntunan agar semua urusan pemerintahan di Kabupaten Bangli bisa berjalan dengan baik, untuk kesejahteraan masyarakat. 
Bupati Made Gianyar juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada umat hindu sedharma yang sangat antusias tanggkil (datang) ngaturang bhakti. Bupati Made Gianyar juga menghimbau umat sedharma yang tanggkil ke Pura Ulun Danu Batur agar selalu berhati-hati dalam berkendara serta mematuhi intruksi dari pihak yang berwajib demi keamana dan kelancaran dan menghindari macet. “Mengingat kondisi jalan yang sempit dan lahan parkir yang terbatas, kita menghimbau masyarakat yang tanggkil, agar selalu mematuhi intruksi dari pihak yang berwenang, untuk keamanan, kenyamanan utamanya menghindari macet”pungkasnya.

  • 13 April 2018
  • Budaya

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita