Sukseskan Karya Agung Panca Wali Krama Di Pura Kehen Bangli, Bupati Serahkan Punia Ggs

  • 19 April 2018
  • Umum
Sukseskan Karya Agung Panca Wali Krama di Pura Kehen Bangli, Bupati Serahkan Punia GGS

Untuk mensukseskan pelaksanaan Karya Agung Panca Wali Krama, Ngusaba Betara Turun Kabeh, di Pura Kehen Bangli, yang rencananya akan dilaksanakan pada Bulan Oktober 2018 mendatang, Bupati Bangli I Made Gianyar, SH.,M.Hum.,M.Kn, didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Bangli Ir. I.B. Gde Giri Putra, MM, menyerahkan bantuan Hibah Daerah Gerbang Gita Santi (GGS) kepada panitia karya Drs. Sang Made Suryawan, Kamis (19/4). Acara yang dipusatkan di Bale Pesanekan, Pura Kehen Bangli, juga disaksikan oleh Jro Gede Kehen dan paduluan Pura Kehen Bangli. Sesuai dengan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD), nominal GGS yang diserahkan memencapai angka Rp. 1,8 Miliar.
Bupati Bangli Made Gianyar pada kesempatan itu menyampaikan, kalau berkaitan dengan Pura Kehen, selama mengambil kebijakan dari pertama kali dilantik menjadi bupati sampai sekarang, tidak ada kata tidak untuk Pura Kehen. Bahkan menawarpun tidak pernah. Sehingga kaitaanya dengan pelaksanaan Karya Agung Panca Wali Krama, Ngusaba Betara Turun Kabeh, di Pura Kehen Bangli, pihaknya pasti mendukung dan ikut mensukseskan karya tersebut.
Bahkan Bupati Made Gianyar juga menghimbau, selain krama gebog domas, panitia juga diminta melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bangli untuk bersama ngaturang ayah bhakti, demi kesuksesan karya suci ini. “Pura Kehen merupakan milik Jagat Bangli, sehingga wajib untuk kita mensukseskan karya suci ini. Kita ingin ASN juga dilibatkan untuk ngaturang ayah bhakti. Buatkan jadwal, sehingga semua berjalan dengan baik”pintanya.
Bupati Made Gianyar juga mengatakan, selama ini banyak kejadian diluar keilmuan terjadi di tanah Bali. Salah satunya, Gunung Agung yang menurut para ahli geologi, sesuai dengan keilmuannya akan meletus dasyat. Percaya atau tidak, mungkin dengan yadnya yang selama ini dilaksanakan masyarakat Bali, Ida Sanghyang Widhi Wasa menunjukkan kebesarannya, Gunung Agung tidak jadi meletus. “Untuk itu, pelaskanaan Karya Agung Panca Wali Krama, Ngusaba Betara Turun Kabeh, di Pura Kehen harus terlaksana dengan baik, sebagai wujud syukur kita kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa”katanya.
Terkait dengan pelaksanaan Karya ini, Bupati Made Gianyar juga mengatakan, dari semua refrensi yang ada, belum ada yang bisa memastikan waktu pasti, kapan karya serupa terakhir kali dilaksanakan. Untuk itu Bupati Made Gianyar mengatakan, prasasti pelaksanaan karya sangat penting dibuat agar generasi mendatang tahu kapan karya agung terakhir kali dilaksanakan. “Kalau misalkan karya serupa akan dilaksanakan 10 tahun mendatang, sedangkan generasi sekarang yang menjalankan karya agung mungkin sudah ada yang meninggal, atau karena perjalanan waktu, semua lupa, tentu keberadaan prasasti bisa mempermudah dan bisa dijadikan acuan. Jadi itulah pentinya dibuat prasasti”jelasnya.
Mengingat sebagian besar sumber pendanaan karya berasal dari Hibah Daerah GGS, pada kesempatan itu, Bupati Made Gianyar juga mengingatkan, agar panitia bisa mempertanggungjawabkan dan membuat laporan keuangan dengan baik. Sehingga suatu ketika jika ada pemeriksa eksternal dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak terjadi masalah. 
“Kita tidak ingin merta metemahan wisia. Apalagi kaitannya dengan yadnya. Jadi kita ingatkan panitia karya bisa membuat laporan keuangan dengan baik. Kita ingin pelaksanaan karya, clear and clean. Clear dalam arti tuntas pertanggunjawabannya dan clean tidak ada masalah dikemudian hari”harapnya. 
Sementara itu, panitia karya, Sang Made Suryawan, atas nama krama gebog domas dan peduluan Pura Kehen Bangli, pihaknya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Bangli, khususnya Bupati Bangli, karena sepenuhnya siap membantu dan ikut mensukseskan pelaksanaan karya suci ini. 
Menurutnya, tujuan dilaksanakannya Karya Agung Panca Wali Krama, Ngusaba Betara Turun Kabeh, di Pura Kehen Bangli adalah untuk mendoakan alam semesta beserta isinya agar diberikan keselamatan, mengingat, belakangan banyak terjadi bencana alam maupun huru hara. Menurutnya, bencana maupun huru hara ini, mungkin merupakan ciri dari zaman kaliyuga. “Melalui karya suci ini, semoga zaman kali yuga segera berlalu. Sehingga alam beserta isinya kembali normal”harapnya.

Bangli-Protokol

  • 19 April 2018
  • Umum

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita